Google Advanced Search Engine

Minggu, 20 Februari 2011

KUMPEL (2)

KUMPEL (2)

Anak laki-laki itu memberikan sesuatu kepada gadis kecil yang sedang duduk di sebelahnya.
“Apa ini, Adit?” tanya gadis kecil itu
“Ini, aku berikan saja untukmu, Anna. Nih,Ambil!” kata Aditya
“Tidak cukup, Adit. Terlalu besar”
“Kalau begitu, simpan saja dulu. Kalau sudah muat baru kamu pake ya. Aku tidak mau menyimpannya tapi aku juga tak bisa membuangnya. Itu satu-satunya kenangan tentang mama”
“Ini punya mamamu?” tanya Anna dengan rasa heran kenapa dia memberikan cincin kepunyaan ibunya itu kepadanya.
“Aku benci dia, Anna. Dia pergi meninggalkan aku padahal aku sudah berusaha menahannya pergi. Aku pegang erat tangannya sampai cincinnya terlepas. Aku juga benci ayah yang sudah membiarkan ibu pergi. Aku benci mereka berdua”
“Kenapa dia pergi, Adit?”
“Aku tak tahu, yang aku tahu sekarang aku membencinya. Dia jahat. Mereka jahat. Tapi tidak apa-apa, aku kan sekarang punya kamu, Anna. Kamu jangan pergi kemana-mana ya...pokoknya kita harus selalu bersama” kata Adit sambil memegang tangan Anna. Tiba-tiba seorang gadis kecil berlari menghampiri mereka smabil berteriak-teriak memanggil nama Anna.
“Anna...Anna...aku sudah selesai. Ayo, kita main” kata gadis itu dengan wajah berseri sekalipun dengan nafas yang tersengal-sengal. Tampak dengan jelas Anna senang sekali melihat kedatangan gadis itu. Ia segera berdiri, namun Adit memegang erat tangannya. Tergambar jelas di wajah Adit kalau dia tidak senang Anna berteman dengan gadis itu.
“Anna, jangan main sama dia. Dia kan miskin. Lihat saja, dia kotor sekali ..ih” Adit menatap gadis itu dengan sinis
Kaki kecilnya yang semula berlari tiba-tiba terhenti ketika mendapati Anna sedang bersama adit. Kedua tangan kecilnya perlahan mengepal meremas bajunya yang penuh debu. Matanya menatap dalam penuh harap ke arah Anna, namun setiap kali dia melihat sorot mata Adit harapannya seketika hancur. Gadis kecil itu mengusap peluh yang menetes di wajahnya, dia tersenyum kepada Anna sambil berkata, “Anna, nanti saja ya...” lalu Adit segera menjawab, “Nanti? Anna hanya main denganku, tahu. Sana kamu...pergi!!..pergi!!”
Gadis kecil itu merasa ketakutan dan seketika itu ia berlari menjauh dengan menahan tangis.

*****

Amel mendekati Indah lalu berbisik kepadanya, “ Mbak, apakah itu benar? mbak yang bakal gantiin posisinya Pak Ilyas?”
Indah menjawab dengan tenang, “Menurutmu? ..”
“Aku??? ya, aku tidak tahu lah mbak. Bukannya mbak mau menikah dengan Pak Ilyas?” tanya Amel menyelidik
“Jangan bergosip, Amel. Bukan aku yang mau menikah dengan Pak Ilyas tapi pak Ilyas yang mau menikah dengan aku” jawabnya sambil tersenyum
“Mbak, serius dong mbak. Mbak tahu sendiri aku kan orangnya penasaran mbak” rajuk Amel
Indah menghela nafas panjang, menarik perlahan tangan Amel, memegang pundaknya sambil berbisik kepadanya, “Aku akan beritahu, kalau kamu beritahu aku ada apa antara kamu dengan pak Rudi, bagaimana??”. Sontak Amel terkejut. Penuh rasa gugup ia berkata, “Apa???aku??..tidak, anu...aku..aku??tidak ada apa-apa antara aku dengan pak Rudi, mbak. Sungguh, tidak ada apa-apa”
Indah kemudian berkata sambil tersenyum dengan tenang, “ Baiklah, aku percaya kok mel....hehe”
Jantung Amel berdegup kencang, ia lalu memutuskan untuk mengakhiri percakapan itu dan pergi ke mejanya. Salah seorang pegawai mendekati Amel lalu berbisik pelan, “Mel, apa yang dia katakan?? kenapa kamu gugup seperti itu, mel??hati-hati sama dia mel, dia serigala berbulu domba. Aku yakin rumor itu benar, dia memanfaatkan pak Ilyas untuk mendapatkan posisi itu. Kita lihat saja, sasaran berikutnya pasti Pak Rudi..”
Amel segera memotong perkataan temannya itu,“Hush, diam kamu. Aku tidak percaya dengan rumor itu, tapi aku juga tidak bisa mempercayainya begitu saja. Aku tidak tahu bagaimana dia sebenarnya, yang pasti aku harus berhati-hati dengannya”

*****

Anna menyampaikan kabar gembira itu kepada ibu dan ayahnya bahwa ia diterima bekerja dan dua hari lagi dia sudah bisa mulai bekerja. Ayahnya memeluk Anna sambil meneteskan air mata kegembiraan sekaligus kesedihan, “Maafkan Ayah ya nak, karena ayah kamu jadi harus banting tulang bekerja seperti ini. Seandainya waktu itu Ayah tidak hidup berfoya-foya kamu dan ibumu pasti....” Anna lalu memutus perkataan ayahnya, “sudahlah ayah. Ayah dan ibu sudah tua, sekarang giliran anna yang menghidupi keluarga ini. Anna bisa sarjana pun kan karena ayah dan ibu. Terima kasih ibu, ayah...yang penting kita bersama” Anna lalu memeluk kedua orang tuanya itu.
Ayah tiba-tiba berkata, “ Nak, kemarin sekolah memberitahu kalau guru penggantimu sudah ada. Mereka hanya memberitahu kalau anak-anak pasti akan merindukanmu”
“Aku juga akan sangat merindukan mereka, ayah” jawab Anna
Ibu melihat tangan Anna dan menanyakan cincin yang biasa dikenakan Anna. Karena gembira Anna sampai melupakan cincin itu, “Oh..iya, cincin? aku menghilangkannya, bu. sepertinya terjatuh entah dimana..padahal kan cincin itu..”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Toh, orangnya juga sudah entah dimana, kan?” hibur ibu
“Bukan begitu, bu. Tapi, itu cincin milik ibunya Adit”
“Ibu yakin, Adit sudah lupa kalau dia pernah memberikan cincin itu kepadamu. Ah, sudahlah kamu harus bersegera mencari kos-kos an disana, bukan?”
“Iya, baiklah bu”

*****

Jam kantor menunjukkan pukul 5 sore, sudah waktunya para pegawai pulang untuk kemudian berlibur di hari sabtu dan minggu sebelum menghadapi rutinitas mereka selanjutnya di hari senin. Sebelum Indah pulang, pak Rudi menghampirinya lalu berkata, “Kamu jangan senang dulu Indah, kalau bukan karena ayahku, aku sudah memecatmu dari dulu”.
“Sudah jam 5 lewat, berarti sekarang sudah di luar jam kerja. Aku tidak harus memanggilmu pak Rudi lagi, bukan?...dengar ya Rudi Aditya, aku tidak pernah meminta semua ini. Kamu yang menawarkannya. Ayahmu mempercayai aku karena aku mampu, tidak seperti anaknya yang selalu memikirkan dirinya sendiri. egois” jawab Indah dengan ketus
“Indah, kau memang perempuan yang tak punya perasaan. Demi jabatan kau mengorbankan calon suamimu. Kalau kau memang mencintainya, kau tidak akan tergiur dengan tawaranku, bukan? heuh..dasar munafik” Rudi menjawab sinis
“mungkin, karena aku memang tidak benar-benar mencintainya. Jadi lebih baik aku meninggalkannya. Aku lebih memilih jabatan daripada cinta dan itu bukan munafik, itu kejujuran”
“Dia itu adalah adikku, dan kamu mempermainkannya”
“Bukan, bukan karena itu. Tapi karena dari dulu kamu tidak pernah menyukaiku. Aku miskin.....kamu ingat kata-kata itu???”
“jadi ini semua tentang itu? balas dendam? heuh...kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku Indah...tidak akan!!”
“Aku tidak akan mengalahkanmu. Aku hanya perlu merebut semuanya darimu. Tidakkah kau lihat aku sudah membuatmu terpisah dari adikmu? aku sudah merebut hati ayahmu?aku sudah menjadi apa yang kamu cita-citakan dulu bersama Anna..tidakkah kau lihat itu??”

*****

“Abel, apa cita-citamu?” tanya Anna kecil
“Aku???aku ingin.....” belum selesai Abel menjawab, tiba-tiba datanglah adit dan berkata,
“Apapun yang dia cita-citakan dia tidak akan mampu mewujudkannya Anna. Dia itu beda dengan kita. Kalau kita pasti mampu.”
“Memangnya apa cita-cita kamu Anna?”tanya Abel
“Aku ingin sekolah tinggi dan jalan-jalan keluar negeri” jawab Anna dengan wajah berseri
“Aku pun sama. Kita kan akan selalu bersama-sama. Ya, kan Anna? jalan-jalan ke luar negeri????...kemana Anna?”
“hmmmm...apa ya? Oh, aku tahu. Jerman. Karena kata ayahku kalau kamu mau pinter musti kayak pak Habibi. sekolah sampai ke jerman” Anna bersemangat
“Iya, iya...aku juga akan ke jerman. Hey, Abel...kamu bisa gak ke jerman?” tanya Adit menyindir

*****

“Kamu ingat itu, Adit???. Kamu tahu sejak itu aku bertekad aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi apa yang dulu kalian cita-citakan dan sekarang tinggal sedikit lagi. Kamu akan lihat itu Adit. Ini belum seberapa, ini baru permulaan. Ingat, aku akan mengambil semuanya darimu, semuanya.. di depan matamu sendiri. dan kita lihat siapa yang akan kalah” Indah lalu pergi meninggalkan Rudi. Dari balik tembok sesosok bayangan perempuan menghampiri Rudi. Rudi berkata kepadanya dengan amarah, “Cari tahu semua tentang dia. Semuanya...SEMUA!!!!!!”

(To be continued......)


0 komentar:

Poskan Komentar